Warem di Desa Malang Buka Kembali di Duga Ada Yang Memback – Up


Gambar saat Satpol PP musyawarah dengan ketua Paguyuban Warung remang-remang di desa Malang – Maospati, beberapa bulan yang lalu.

Magetan, Pojok Kiri – Menjadi perbincangan dikalangan warga masyarakat dan dikalangan aktifis serta dunia jurnalis, setelah hampir dua bulan ditutup sementara oleh Satpol PP Magetan, satu per satu kafe remang-remang yang tidak berijin di Desa Malang, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan nekat buka kembali. Senin (1/64/2018)
Pantauan media Pojok Kiri memang benar ada 6 kafe yang nekad beroperasi lagi dan tidak segan-segan menyalakan musik didalamnya. Hal ini sangat disayangkan oleh beberapa warga Desa Malang.
Giarto salah seorang warga yang biasa ngopi mengatakan, kami sangat menyesalkan dengan kembali beroperasinya kembali kafe tersebut, padahal kafe tersebut sudah di tutup sementara dan digembok oleh Satpol PP Magetan. Seharusnya Satpol PP Magetan segera mengambil tindakan tegas dengan beroperasinya kembali kafe remang-remang tersebut", ungkap Giarto.

Hal senada diucapkan Joko Purnomo, baru beberapa saat kami merasa tidur dengan nyaman, eh sekarang sudah beroperasi lagi. “Sebaiknya diratakan dengan tanah saja itu bangunan kafenya", ucap joko.
Akbar warga yang rumahnya hanya beberapa meter dari kafe tersebut mengatakan, beberapa hari lalu memang sudah ada yang buka kembali, tapi baru hari ini ada yang menyalakan musik. “Saya berharap kepada pihak terkait segera mengambil tindakan tegas, karena saya sangat merasakan dampaknya.”ucap Akbar.
Kepala Bidang Penegakan Perda Satpol PP Magetan saat di hubungi Pojok Kiri mengatakan, memang ada yang menekan pengurus paguyuban untuk segera buka kembali, tapi saya mengingatkan yang bisa membuka segel tersebut hanya Satpol PP.
“Apabila kami yang membuka segel sementara tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun karena itu memang tugas kami, dalam hal peraturan daerah itu dalam kasus ini ada terdapat tiga perkara segel di buka tapi dikembalikan ke posisi semula sebagai warung kopi, tidak ada pembukaan tapi harus diratakan oleh tanah dan yang terakhir warga menuntut warung remang-remang tanpa ijin harus tutup atau tetap buka dengan melengkapi ijin atas persetujuan dari warga setempat,” ucap Rahmat.
Salah satu yang memempati warung remang yang tak mau disebut namanya mengatakan, dia dipaksa untuk buka dengan syarat harus membayar kepada paguyuban sebesar Rp. 1 juta, dan untuk per bulan harus bayar iuran sebesar Rp. 550.000,-.
“Saya bingung, mas, nanti saya bayar ternyata warga marah dan memaksa untuk tutup, hal ini buka atau tidak buka tetap harus bayar Rp. 1 juta, ini yang membuat saya semangkin bingung, kita ini maunya usaha lancar tanpa ada ganngguan terus harus bagaimana ini mas,”pungkasnya (Lak)

Share on Google Plus

About pojok kiri madiun raya

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Post a Comment