Uang BSM Ditilep Kepsek?


Pungli Guru Terkuak, 
Wali Murid Adukan Kepala SDN 03 Jatisari, Kec. Pakisaji.

Malang, Pojok Kiri
Setelah dimuatnya masalah pungutan liar (Pungli) oleh Suparni, guru kelas 1 di SDN (Sekolah Dasar Negeri) Jatisari 3, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang yang meminta uang tambahan les dan uang untuk membeli barang yang sebenarnya tidak di butuhkan oleh siswa, serta iuran wajib untuk pembelian alat kebersihan kelas yang realisasinya tidak pernah ada (terilis edisi Rabu, 19/7). Kemarin, giliran wali murid yang lain mengadukan Kepala SDN Jatisari 03 itu, terkait tidak tersalurkannya BSM (bantuan siswa miskin) kepada siswa yang berhak dan diduga lantaran ditilep kepala sekolah.
Pengaduan yang disampaikan langsung oleh beberapa wali murid kepada wartawan Pojok Kiri, (Rabu, 19/7), disertai dengan dihadirkannya beberapa siswa penerima BSM yang tidak menerima bantuan tersebut secara penuh, bahkan dalam 3 kali pencairan BSM mereka mengaku hanya menerima sekitar 300 ribu rupiah hingga 400 ribu rupiah saja.
Seperti yang disampaikan AL, salah satu siswa penerima BSM, bahwa dari 3 kali pencairan BSM dalam 3 periode, pernah diajak ke bank untuk mengambil uang bantuan siswa miskin yang masuk rekeningnya, namun AL mengaku hanya menerima sekali sebesar 400 ribu rupiah pada pengambilan pertama dan hanya menerima sekali senilai 50 ribu rupiah dari 2 kali pengambilan berikutnya. Padahal, nilai BSM yang menjadi haknya adalah senilai 450 ribu rupiah perperiode atau pertahun.
“Saya memang diajak ke bank untuk mengambil uang bantuan siswa miskin yang masuk rekening atas nama saya, kira-kira sebanyak 3 kali, setelah itu saya diberi 400 ribu rupiah, sisanya dibawa pak kepala sekolah." ujar AL, salah satu siswa penerima BSM.
            Senada dengan AL, AN menjelaskan bahwa juga pernah 3 kali diajak ke bank, namun hanya menerima 300.000,- pada pengambilan pertama dan sebesar 50 ribu rupiah untuk 2 kali pengambilan berikutnya.
"Saya diajak mengambil di bank juga 3 kali, tapi uang yang saya terima, pertama 300 ribu rupiah dan yang kedua 50 ribu rupiah, katanya buat uang jajan saya." ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, salah satu wali murid menceritakan pengalamannya terkait pencairan BSM itu, berawal dari kecurigaan dan merasa ada kejanggalan atas kebijakan kepala sekolah, bahwa untuk siswa yang masuk sebagai penerima   BSM, pada saat penerimaan raport harus diambil siswa sendiri dan tidak perlu mendatangkan orang tuanya, sedangkan walimurid yang bukan penerima BSM, tetap diundang hadir dalam penerimaan raport. Lantaran kebijakan itu diprotes karena dinilai diskriminasi, akhirnya diputuskan tanpa mengundang semua wali murid dan diambil siswa sendiri, sehingga tidak ada rapat lagi antara pihak sekolah dan wali murid, dari kelas 1 sampai kelas 6.
“Karena rapat wali murid dan sekolah dalam pembagian raport siswa tidak diadakan lagi, akhirnya saya datang ke sekolahan untuk menemui kepala sekolah. Saya minta penjelasan soal BSM dan menanyakan hak anak saya sebagai penerimanya, Alhamdulillah, setelah itu saya di kasih 350 ribu rupiah, saya terima saja dari pada tidak sama sekali. Saya juga diminta diam meski tahu ada beberapa siswa yang juga tidak dikasihkan BSMnya, tapi hanya disuruh tanda tangan" terang orang tua siswa yang wanti2 namanya tidak disebutkan.

Hingga berita ini naik cetak, kepala sekolah belum berhasil dikonfirmasi karena masih mengikuti kegiatan diluar sekolah, sementara dihubungi via telephone seluler, SMS dan WAnya, yang bersangkutan tidak merespon. (Eko/Dya/Djo)
Share on Google Plus

About pojokkiriarema

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Post a Comment