Ini Alasan Terdakwa Edi Tipu Rekan Bisnis Rp 1,5 Miliar

Sidang Terdakwa Edi Susanto Santoso kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.
Surabaya, Pojok Kiri - Sidang penipuan dengan modus cek kosong yang menyeret terdakwa Edi Susanto Santoso kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Sidang yang dipimpin hakim Dedy Fardiman ini mengendakan keterangan Edi sebagai terdakwa, Senin (31/7/2017).

Sidang yang digelar di ruang Garuda PN Surabaya ini terdakwa Edi diminta untuk menjelaskan banyak hal, mulai bagaimana awal mula terdakwa Edi kenal dengan korban Suhwaji, berapa uang yang dipinjamkan, bagaimana pemberian jaminan atas sejumlah uang yang dipinjam terdakwa ke Suhwaji, serta bagaimana mekanisme pembayaran hutang terdakwa ke Suhwaji sebagai pemberi pinjaman.

Terdakwa juga dicecer pertanyaan seputar pemberian 13 cek yang dikeluarkan terdakwa sebagai jaminan hutang dan 13 cek yang dikeluarkan terdakwa tersebut sebagai jaminan yang bisa dipakai sebagai pembayaran hutang terdakwa namun ternyata cek tersebut kosong hingga 13 cek yang dikeluarkan tersebut tidak mempunyai nilai eksekutorial.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Jusuf Akbar usai sidang mengatakan, dalam persidangan ini pihaknya berusaha untuk terus membuktikan adanya tindak pidana yang dilakukan terdakwa Edi Susanto Santoso sebagaimana yang tertuang dalam dakwaan.

" Terkait dengan terbitnya 13 cek yang dikeluarkan terdakwa dan akhirnya diketahui jika cek itu kosong, kami melihat bahwa pemberian cek kosong itu sudah bisa dikategorikan sebagai tindak pidana," jelas Jusuf.

Karena, lanjut Jusuf, pemberian 13 cek kosong tersebut adalah sebagai alat untuk meyakinkan Suhwaji supaya Suhwaji mengeluarkan sejumlah uang.

Selain masalah mekanisme penerbitan cek yang jumlahnya 13 lembar tersebut, Jaksa Jusuf Akbar juga menyatakan bahwa pemberian jaminan tanpa adanya ikatan eksekutorial maka cek yang dijadikan jaminan tersebut tidak mempunyai nilai apapun.

" Tigabelas cek yang sudah dikeluarkan terdakwa Edi itu nilainya nol karena tidak bisa diapa-apakan, " tandas Jusuf.

Pada kesempatan ini, Jaksa Jusuf juga menjelaskan tentang mekanisme pengeluaran cek dimana nama orang yang mengeluarkan cek tidak sama dengan nama yang tertera di rekening.

Atas hal ini, jaksa Jusuf mengatakan bahwa hal ini juga sempat ditanyakan ke terdakwa Edi Susanto di persidangan.
" Terdakwa mengatakan bahwa hal itu tidak apa-apa karena sebelumnya sudah ada perjanjian dengan pihak bank, " ujar Jusuf.

Mengapa hal tersebut diperbolehkan? Mengutip keterangan terdakwa di persidangan, Jaksa Jusuf menjelaskan bahwa penerbitan cek itu bisa dilakukan karena sudah ada persetujuan dari bank, mengingat terdakwa Edi Susanto dan nama yang tertera di rekening bank adalah suami istri.

Namun lanjut Jaksa Jusuf, yang menjadi masalah disini dan akhirnya menyeret Edi Susanto ke pidana adalah tidak adanya dana ketika cek itu di cairkan sehingga merugikan korban. (sw).
Share on Google Plus

About Pojok kiri Online

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Post a Comment