Alasan Diskresi Bambang Irianto Perkaya Diri.


Sidoarjo, Pojok Kiri.-Saksi ahli yang dihadirkan oleh terdakwa yakni, Professor Gede ahli administrasi tata negara universitas Pajajaran Bandung, guna dimintai keterangannya di persidangan kasus dugaan grafitasi sebesar Rp 59milyar (25/7) di pengadilan tipikor Surabaya.
Terdakwa selaku pejabat penyelenggara negara mengambil diskresi pembangunan pasar besar Madiun. Namun dari pengambilan kebijakan tersebut, terdakwa memperkaya diri, ikut menanam modal dalam pembangunan pasar besar Madiun dengan menunjuk Ali Fauzi sebagai kuasa direksi pembangunan pasar besar Madiun. Dari hasil menanam modal terdakwa mendapatkan hasil laba sebesar Rp 2 milyar lebih.
Sebagai pejabat kepala daerah seharusnya dia hanya mengawasi pembangunan yang ada didaerahnya yang sesuai dengan pasal 12i UU Tipikor. Tetapi Bambang Irianto ikut menanam modal didalamnya yang berujung untuk memperkaya diri, dan itu diperkuat dengan kesaksian Ali Fauzi di fakta persidangan.

Dalam pembangunan Pasar Besar Madiun, terdakwa juga menarik fee dari para kontraktor yang menang dalam pembangunan pasar, dia juga menarik fee dari perizinan satu atap misalnya perizinan iklan, mini market dan juga ijin perumahan perunit dikenakan Rp 2juta.

"Kami berpedoman pasal 12i UU Tipikor, kalau pejabat penyelenggara pemerintahan tidak boleh terlibat dalam pembangunan di daerahnya. Dan terdakwa kami kenakan pasal kumulatif". Kata Fitroh.

Ditempat terpisah seusai sidang, Penasihat Hukum Indra Priangkasa mengatakan."Kita buktikan pada waktu pledoi nanti, bukti-bukti yang kita punya". Pungkasnya. (nus)
Share on Google Plus

About pojok kiri madiun raya

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Post a Comment